Kamis, 16 Agustus 2012

Kenapa harus dipaksakan?



Apakah agama itu sesuatu hal yang dipaksakan? Atau sesuatu yang merupakan 'warisan' dari ayah atau ibumu yang juga dulunya diwariskan dari kakek buyut dan nenek buyutmu? Banyak yang bilang agama itu suatu keyakinan. Keyakinan akan suatu wujud positif yang tak terlihat tapi ada penafsirannya.  Kita sebut itu Tuhan.
Agama juga bisa menjadi 'pedang' yang memecah belah hubungan kita sama orang lain. Ya bukan hanya omong kosong kalo ada saja di berita-berita tentang pemblokiran tempat makan di siang bolong saat puasa, atau invasi ke negara-negara timur tengah dengan kedok bahwa di daerah sana terdapat sarang teroris, dan kontroversi-kontroversi lainnya yang berhubungan dengan agama.
Di setiap individu yang beragama pasti yakin terhadap Tuhan. Tuhan sendiri merupakan sesuatu yang 'Mulia' yang memiliki sifat-sifat mulia dan dengan sifat-sifat mulia tersebut memberikan dampak positif bagi kebutuhan rohaniah kita. Setiap Tuhan dari tiap-tiap agama, aku yakin pasti mengajarkan atau membimbing umatNya dengan hal-hal yang positif dan baik untuk kehidupa umatNya pula.
Lalu bagaimana dengan Atheis? Menurutku Atheis itu memiliki cara pandang Tuhan yang berbeda. They have their own way to praise their God. Ya itu sama saja dengan kebebasan untuk memeluk agama dan keyakinan masing-masing bukan?
Dan yang menjadi pertayaanku sekarang, gimana di Indonesia, negara yang memiliki warga negara yang menganut kepercayaan yang relatif berbeda masih saja ada konflik-konflik yang memecah belah hubungan. Seperti tadi aku bilang, agama bisa menjadi 'pedang'.
Padahal di Indonesia yang berdasarkan Pancasila, dimana sila pertama berbunyi  KETUHANAN YANG MAHA ESA sudah mengisyaratkan bahwa negara Indonesia mengakui adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Indonesia berdiri atas moral luhur yang berdasar pada Tuhan yang Esa dimana negara menjamin hak-hak warga negara untuk memeluk agama sesuai keyakinan dan kepercayaannya masing-masing. Bahkan sudah ditegaskan lagi di Undang-Undang Dasar pasal 29 ayat 2: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memilih agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya. Lantas kenapa harus memaksakan agama kita untuk di'yakini' dalam diri orang lain yang awalnya memiliki keyakinan berbeda?
Hmm contoh saja ya, menutup paksa warung makanan saat puasa pada siang hari. Toh itu artinya memaksa orang lain untuk me'yakini' ajaran keyakinan kita bukan? Dan juga menurutku itu menutup pintu rejeki orang lain dari bidang pekerjaan mereka.
Tuhan kita juga tidak ingin orang lain untuk memeluk agamaNya dengan terpaksa, jadi kenapa kita harus memaksa orang lain untuk memeluk agama Tuhan kita?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar